/tidak pernah sesempurna ini, ketika ikhlas serta ketulusan tidak harap balasan, dan mencintaimu demi kekuranganmu.
/tidak pernah sedekat ini menyebut namamu dalam setiap do’a, dalam kecewa, dalam putus asa, tidak bosan berharap kepadaNya.
/tidak pernah sebaik ini, keluarga baru dengan kebaikan-kebaikan baru, segala kesenangan-kesenangan seperti candu.
/tidak pernah sebahagia ini, dikecewakan kemudian memaafkan.
semoga masih ada jalan, semoga masih ada kesempatan, ketiga, keempat, dan seterusnya. -09102011:2020-
/matahari meredup condong ke barat tenggelam bersama keluh dan serapah sebelum lahir kembali menjadi harapan setengah semu, setengah-setengah. (200911-1631)
/seduh kopi senja berganti cibiran comberan kali pinggiran kota, aku dihisap usia, aku dimakan kata-kata. (200911-1640)
/limabelas menit sebelum pengulangan kebahagiaan kemarin, hari ini, esok, dan lusa. berbenah, bersiap terjun ke lantai ibukota senja. (200911-1645)
————
/apa rindu memang begitu, berharap melebur bersama udara senja, sebrangi bukit menuju kota, lalu secepat cahaya kembali ke kursi kopaja, tepat sedetik setelah aku mengecup bibirmu itu. (21092011-1513)
/nada melayu mendayu, jakarta sore semakin semu hampir jemu, aku belum bisa menggurui waktu dan kenangan tentangmu. (21092011-1522)
/ada kamu di sudut kamar, dengan wujud beragam, dalam figura tua, di pelataran meja, di styrofoam, berwujud struk belanja, berbentuk brosur toko, dalam sekotak surat cinta nostalgila masa sma.
/ah, kamu lagi, kali ini di langit-langit kamar, di sekeliling lampu pijar sewarna putih pudar dimakan masa awal kita menyandang gelar “pacar”.
/dari langit-langit kamar menuju ventilasi, pamit tanpa salam selamat kepada malam, pertanda akan ada kamu lagi malam berikut dan akan datang.
/dan akhirnya, ada jejakmu di setiap sudut kamar, di langit-langit dekat lampu pijar, dan di ventilasi kayu tua berpola acak, semua sewarna merah jambu. rindu.
-padang, lima ke enam september duaribusebelas, dini hari-
Hey Tonight, by Creedence Clearwater Revival
(lagu ini, lagu kebangsaan ibuku ketika aerobik pagi era pertengahan 90’an)
kicauan pagi @prisapratama di empat september, dengan hastag #TerpujilahPagi.
@prisapratama: #TerpujilahPagi dalam peluk ucapan selamat, doa-doa, serta puja-puji manusiawi, minim substansi, sekedar basa-basi.
@prisapratama: #TerpujilahPagi ketika ketidaksadaran kembali, imaji dipaksa berhenti, mimpi dikebiri realitas atas nama harga diri.
@prisapratama: #TerpujilahPagi minggu yang belum sempurna, teh hangat di pelataran meja, percakapan dalam hati tanpa kesimpulan, akhiran, sekenanya.
@prisapratama: #TerpujilahPagi para penikmat kenangan tanpa urutan, penggiat malam yg keletihan, penulis amatir dgn keahlian mendeskripsikan umpatan
@prisapratama: #TerpujilahPagi sebentar lagi berganti siang, matahari lebih suka ketinggian, berbagi kehangatan, mengambil peran dalam siklus membosankan.
@prisapratama: #TerpujilahPagi penggiat korupsi di lembaga pemasyarakatan yg ketiban remisi idul fitri, harap cemas saat idul adha & natal ketiban lagi